Antara Tidak Bisa dan Belum Bisa: Pelajaran dari Rubik 3×3

oleh Yasser Himawan

Lebih dari sepuluh tahun saya hanya bisa menyelesaikan satu lapisan Rubik 3×3. Namun, belakangan ini saya berhasil menyelesaikan seluruh warnanya. Bukan karena tiba-tiba menjadi lebih pintar, melainkan karena rasa penasaran yang membuat saya ingin mencoba lagi.

Dari pengalaman sederhana itu, saya justru menemukan pelajaran hidup dari Rubik yang selama ini tidak pernah terpikirkan: terkadang sesuatu terasa mustahil bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita belum mengetahui bagaimana cara menyelesaikannya.

Sejak SMP, sekitar tahun 2010, saya sudah mengenal Rubik. Berlanjut hingga SMA, bahkan kuliah, kemampuan saya tidak banyak berubah. Paling jauh hanya bisa menyamakan satu warna dan menyelesaikan satu lapisan.

Setelah itu, biasanya saya berhenti. Bukan karena menyerah, tetapi memang tidak pernah terpikir untuk mempelajarinya lebih jauh.

Sampai suatu hari, saya melihat seorang rekan kantor mampu menyelesaikan Rubik dengan seluruh warna tersusun sempurna.

Saya pun tertarik dan meminta diajarkan. Dari sana, kemampuan saya bertambah. Akhirnya saya bisa menyelesaikan lapisan kedua.

Tetapi masih ada satu lapisan yang belum selesai.

Entah mengapa, kali ini saya tidak ingin berhenti seperti sebelumnya.

Bukan karena ingin menjadi ahli Rubik atau mengalahkan siapa pun. Saya hanya penasaran, bagaimana rasanya kalau saya bisa menyelesaikan seluruh warnanya?

Rasa penasaran itu membuat saya mulai belajar sendiri melalui YouTube. Menghafal rumus, mengulang gerakan, sesekali salah, lalu mencoba lagi.

Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya, seluruh warna Rubik berhasil saya selesaikan.

Sesuatu yang selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah saya tuntaskan.

Dan justru setelah berhasil, saya mulai memikirkan sesuatu yang lebih menarik daripada permainan itu sendiri.

Pelajaran Hidup dari Rubik: Tujuan dan Cara Mencapainya

Kalau dipikir-pikir, tujuan bermain Rubik sebenarnya sederhana: membuat keenam sisi memiliki warna yang seragam.

Kita tahu seperti apa hasil akhirnya, tetapi belum tentu mengetahui cara mencapainya.

Untuk menyelesaikannya, saya harus memahami setiap lapisan. Mulai dari lapisan pertama, kedua, hingga terakhir. Masing-masing memiliki pola dan algoritma yang berbeda.

Saya kemudian membayangkan Rubik sebagai kehidupan.

Rubik yang selesai adalah tujuan besar (big goals). Setiap lapisannya merupakan tahapan yang perlu dilewati, sementara rumus-rumusnya adalah pengetahuan dan strategi yang membantu kita menyelesaikannya.

Bukankah sering kali kita juga demikian?

Kita tahu apa yang ingin dicapai, tetapi kebingungan menentukan langkah untuk sampai ke sana.

Mungkin bukan tujuan kita yang terlalu besar. Bisa jadi, kita hanya belum mengetahui pola yang tepat untuk mencapainya.

Dan ada satu hal yang saya pelajari: rumus yang berhasil pada satu lapisan belum tentu bisa digunakan untuk menyelesaikan lapisan berikutnya.

Begitu pula dalam kehidupan. Cara yang membawa kita sampai pada satu pencapaian belum tentu cukup untuk membawa kita menuju pencapaian selanjutnya.

Ada saatnya kita perlu belajar lagi, mencoba pendekatan baru, dan menyadari bahwa pengetahuan lama memiliki keterbatasan.

Semakin Mendekati Selesai, Mengapa Justru Terasa Lebih Mudah?

Ada bagian menarik ketika saya mempelajari lapisan terakhir Rubik.

Pada tahap tertentu, saya harus menghafal algoritma dengan belasan gerakan yang perlu dijalankan secara berurutan.

Namun, ketika Rubik hampir selesai, ada tahapan yang justru menggunakan rangkaian gerakan relatif sederhana.

Saya sempat berpikir, bukankah semakin dekat dengan tujuan seharusnya tantangannya semakin sulit?

Ternyata tidak selalu.

Lalu saya menyadari sesuatu.

Mungkin bukan tantangannya yang semakin mudah, melainkan kita yang semakin terbiasa menghadapi kesulitannya.

Dulu, menyelesaikan satu lapisan saja sudah terasa sebagai pencapaian. Sekarang, saya bisa melewati dua lapisan dan melanjutkan sampai seluruh warnanya tersusun.

Rubiknya tidak berubah. Jumlah warna dan sisinya tetap sama.

Yang berubah adalah pengetahuan dan kemampuan saya.

Dalam kehidupan pun mungkin demikian. Ada persoalan yang dahulu terasa begitu rumit, tetapi setelah melewati berbagai pengalaman, kita bisa menghadapinya dengan lebih tenang.

Bukan selalu karena masalahnya menjadi lebih kecil, tetapi karena kapasitas kita sudah berkembang.

Tidak Semua Gerakan Maju Terlihat Seperti Kemajuan

Ada satu hal lain dari Rubik yang menurut saya cukup filosofis.

Ketika menyelesaikan lapisan terakhir, terkadang kita harus memutar bagian yang sebelumnya sudah tersusun rapi.

Sekilas, gerakan itu terlihat seperti mengacaukan sesuatu yang sudah berhasil diselesaikan.

Namun, ketika algoritmanya dijalankan dengan tepat, bagian tersebut akan kembali tersusun, sekaligus membawa kita semakin dekat pada penyelesaian.

Saya jadi berpikir, mungkin proses kehidupan juga sering seperti itu.

Tidak semua kemajuan langsung terlihat sebagai kemajuan.

Terkadang kita perlu mempelajari sesuatu dari awal, mengubah kebiasaan, atau meninggalkan cara lama yang selama ini terasa nyaman.

Dari luar, proses tersebut mungkin terlihat seperti kemunduran.

Padahal, bisa jadi itu merupakan bagian dari perubahan yang diperlukan.

Meski tentu tidak semua langkah mundur berarti sedang menuju keberhasilan. Sama seperti Rubik, gerakan yang keliru juga bisa membuat susunannya semakin berantakan.

Karena itu, yang terpenting bukan sekadar terus bergerak, melainkan memahami mengapa kita melakukan setiap gerakan.

Semua Bermula dari Rasa Penasaran

Setelah merenungkan pengalaman ini, saya kembali pada satu pertanyaan sederhana.

Mengapa baru sekarang saya bisa menyelesaikan Rubik, padahal sudah mengenalnya sejak lebih dari sepuluh tahun lalu?

Jawabannya mungkin tidak serumit yang saya bayangkan.

Dahulu, saya cukup puas ketika berhasil menyelesaikan satu lapisan. Tidak ada alasan kuat untuk mempelajari sisanya.

Namun, ketika melihat orang lain mampu menyelesaikannya, muncul rasa penasaran tentang kemungkinan yang selama ini belum pernah saya coba.

Dan dari rasa penasaran itulah saya mulai belajar.

Barangkali tidak semua pencapaian besar harus dimulai dengan ambisi besar.

Kadang kita hanya perlu memberi kesempatan pada diri sendiri untuk bertanya, bagaimana kalau ternyata saya bisa?

Sebab, sesuatu yang selama ini terlihat mustahil mungkin sebenarnya hanya sesuatu yang belum kita pahami caranya.

Saya tentu tidak menganggap semua persoalan hidup memiliki rumus pasti seperti Rubik. Kehidupan jauh lebih kompleks, dan tidak setiap usaha selalu menghasilkan apa yang kita inginkan.

Tetapi pengalaman kecil ini mengingatkan saya pada satu hal.

Ada perbedaan besar antara tidak bisa dan belum bisa.

Tidak bisa terdengar seperti sebuah kesimpulan. Sementara belum bisa menyisakan ruang untuk belajar, mencoba, dan menemukan kemungkinan baru.

Lebih dari sepuluh tahun saya mengira kemampuan bermain Rubik saya hanya sampai pada satu lapisan.

Ternyata, itu bukan batas kemampuan saya. Itu hanya batas dari apa yang sudah saya pelajari.

Dan mungkin, masih banyak hal dalam kehidupan yang selama ini kita anggap tidak mampu kita lakukan, padahal sebenarnya kita hanya belum menemukan caranya.

Siapa tahu, satu-satunya hal yang kita perlukan untuk memulainya adalah rasa penasaran: bagaimana rasanya jika saya bisa?